Skip to main content

Sebuah lowongan kerja sopir pribadi dengan tawaran gaji Rp3 juta per bulan untuk jam kerja 12 jam sehari viral di media sosial. Unggahan akun @johanesalpha di platform Thread memicu gelombang kritik warganet, yang menilai tawaran itu tidak masuk akal untuk beban kerja dan risiko di jalanan Ibu Kota.

Dalam unggahannya, akun @johanesalpha mengaku melamar posisi pengemudi pribadi yang ditawarkan WNA asal Australia, yang tayang di grup Facebook “Expats Jakarta”. Namun dia kaget mendengar nominal gaji yang ditawarkan.

“Hari ini gw melamar kerja buat jadi supir seorang expatriate (bule Aussie) yg dia posting di group Facebook ‘Expats Jakarta’. Kaget bgd klo dia ngasih gaji 3 juta buat kerja 12 jam setiap hari. Dengan biaya hidup di Jakarta dan resiko tinggi sebagai supir, dan hrs bisa basic English, menurut gw, gaji 3 juta itu udah gak manusiawi,” tulisnya.

Dia menambahkan, dirinya sempat mencoba mengingatkan pemberi kerja mengenai ketentuan upah minimum di Indonesia.

Dalam waktu singkat, postingan itu telah disukai lebih dari 10 ribu netizen, dan sedikitnya 2.600 komentar. Sejumlah pengguna membandingkan tawaran tersebut dengan standar upah jasa kebersihan di Australia yang bisa mencapai 200 dolar AS untuk empat jam kerja.

“Saya dulu tinggal di Australia, bayar cleaner itu 200 dolar AS per 4 jam (2 orang). Jadi bayangkan saja betapa ga manusiawinya dia menawarkan gaji 3 juta per bulan. BTW English anda dan istri bagus bgt mas, normanya rate supir yg Inggrisnya bagus gini 7 juta,” tulis akun @queenchaidy dalam kolom komentar.

Tak berhenti, warganet mulai menelusuri identitas sang pemberi kerja. Nama Stephen Luchterhand kemudian ramai disebut, sosok yang dikaitkan dengan posisi pimpinan di Flora Food Group, produsen margarin Blue Band.

Temuan itu beredar luas di forum komunitas ekspatriat di Facebook, disertai ajakan untuk melaporkan praktik pengupahan tersebut ke manajemen global perusahaan. Tak berhenti di sana, kolom komentar akun Instagram resmi Blue Band Indonesia juga sempat dibanjiri kritik, bahkan seruan boikot produk.

“Presdir loh, masa ngasih gaji segitu?” tulis salah satu pengguna.

“Wah dihapusin komennya wkwk ternyata ga CEO ga produk pada denial. Yowes makin mantap boycott,” tulis akun IG luck.my_ mengomentari postingan akun @blueband_id di Instagram.

Hingga kini belum ada klarifikasi dari pihak yang disebut dalam unggahan tersebut maupun perusahaan.